Saya benar - benar ingin sekali menjadi tamu Allah SWT di Baitullah, mungkin karena beberapa bulan yang lalu ada kegiatan manasik haji di TK anak saya, Jadi kepinginnya jadi bertambah , sampai - sampai merinding ketika mengikuti acara manasik di Tk anak.
Berikut saya tuliskan Sejarah Berhaji, semoga kita semua bisa menjejakkan kaki di tempat yang paling indah ini, aamiin ya robbal'alamin
1.
Sejarah Haji
tidak bisa terlepas dari sejarah pembangunan Ka’bah seperti
yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim as. Ketika Nabi Ibrahim as.
selesai membangun Ka’bah, Allah SWT memerintahkannya untuk menyeru manusia agar
melaksanakan haji.
Dalam
hal ini, Allah SWT berfirman, artinya, “Serukanlah kepada seluruh manusia untuk
mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki,
mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. Nabi Ibrahim as berkata kepada Allah SWT, “Wahai Tuhan !
Bagaimana suaraku akan sampai kepada manusia yang jauh ?“, Allah SWT berfirman, “Serulah ! Aku yang akan membuat suaramu
sampai“.
2.
Kemudian Nabi Ibrahim as naik ke Jabal Qubays (sebuah bukit di selatan Ka’bah)
dan memasukkan jari tangannya ke telinganya sambil menghadapkan wajahnya ke
Timur dan Barat beliau berseru, “Wahai
sekalian manusia telah diwajibkan kepadamu menunaikan ibadah haji ke Baitul
Atiq, maka sambutlah perintah Tuhanmu Yang Maha Agung“. Seruan tersebut telah didengar oleh setiap yang berada
dalam sulbi laki-laki dan rahim wanita. Seruan itu disambut oleh orang yang
telah ditetapkan dalam ilmu Allah SWT bahwa ia akan melaksanakan haji, sampai
hari Kiamat mereka berkata, “LABBAIK
ALLAAHUMMA LABBAIK”, artinya,“Telah saya penuhi panggilan-Mu, Ya
Allah! Telah saya penuhi panggilan-Mu“.
3.
Seusai Nabi Ibrahim as menyeru manusia untuk melaksanakan haji, malaikat Jibril
as mengajaknya pergi. Kepada beliau diperlihatkan bukit Safa, Marwah dan perbatasan
tanah Haram,
lalu diperintahkan untuk menancapkan batu-batu pertanda.
Ibrahim as adalah
orang yang pertama menegakkan batasan tanah Haram setelah ditunjukkan oleh
malaikat Jibril as. Pada tanggal 7 Zulhijah, Nabi Ibrahim as berkhutbah di
Makkah ketika matahari condong ke Barat (tergelincir), sementara Nabi Ismail as
duduk mendengarkan. Pada esok harinya, keduanya keluar berjalan kaki sambil
bertalbiyah dalam keadaan berihram. Masing-masing membawa bekal makanan dan
tongkat untuk bersandar. Hari itu dinamakan hari Tarwiah.
Di
Mina, keduanya melaksanakan salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh. Mereka
tinggal di sebelah kanan Mina sampai terbit matahari dari gunung Tsubair (waktu
Dhuha), kemudian keduanya keluar Mina menuju Arafah. Malaikat Jibril as
menyertai mereka berdua sambil menunjukkan tanda-tanda batas sampai akhirnya
mereka tiba di Namirah. Malaikat Jibril as menunjukkan pula tanda-tanda batas
Arafah. Nabi Ibrahim as sudah mengetahui sebelumnya lalu berkata, : عَرَفْتُ
,artinya: “Aku
sudah mengetahui”, maka
daerah itu dinamakan Arafah.
4.
Ketika tergelincir matahari, malaikat Jibril as bersama keduanya menuju suatu
tempat (sekarang tempat berdirinya Masjid Namirah), kemudian Nabi Ibrahim as
berkhutbah dan Nabi Ismail as duduk mendengarkan, lalu mereka salat jamak
taqdim Zuhur dan Asar. Kemudian malaikat Jibril as mengangkat keduanya ke bukit
dan mereka berdua berdiri sambil berdoa hingga terbenam matahari dan hilang
cahaya merah. Kemudian mereka meninggalkan Arafah berjalan kaki hingga tiba di
Juma‘ (daerah Muzdalifah sekarang). Mereka salat Maghrib dan Isya di sana,
sekarang tempat jamaah haji melaksanakan salat. Mereka bermalam di sana hingga
terbit fajar keduanya diam di Quzah. Sebelum terbit matahari, mereka berjalan
kaki hingga tiba di Muhassir. Di tempat ini mereka mempercepat langkahnya.
Ketika sudah melewati Muhassir, mereka berjalan seperti sebelumnya. Ketika tiba
di tempat jumrah, mereka melontar jumrah Aqabah tujuh kerikil yang dibawa dari
Juma’. Kemudian mereka tinggal di Mina pada sebelah kanannya, lalu keduanya
menyembelih hewan kurban di tempat sembelihan. Setelah itu memotong rambut dan
tinggal beberapa hari di Mina untuk melontar tiga jumrah pulang bali saat
matahari mulai naik. Pada hari Shadr, mereka keluar untuk salat Zuhur di
Abthah. Itulah ritual ibadah haji yang ditunjukkan oleh malaikat Jibril as
sesuai permintaan Nabi Ibrahim as, “…..tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan
tempat-tempat ibadah haji kami….” (QS
Al Baqarah : 128).
PERINTAH
ibadah haji sebagai seruan Nabi Ibrahim as dilakukan segera setelah Ibrahim as
beserta putranya Ismail as menyelesaikan pembangunan Ka’bah. “Monumen” bagi
keduanya kini adalah Maqam
Ibrahim dan Hijr
Ismail. Pembangunan Baitullah ini
dilakukan oleh Ibrahim as ketika beliau datang ke Mekah untuk yang kelima
kalinya sekaligus yang terakhir. Lalu saat peristiwa apa saja Ibrahim as ke
Makkahh ?
Ibrahim
as, Siti Hajar, dan Ismail as berangkat dari Hebron bergerak ke arah tenggara
menyusuri rute kafilah yang dikenal sebagai rute wewangian (incense route) sejauh
1.200 km dan tiba di lembah tandus pegunungan Sirat yang
puncak-puncaknya meliputi Jabal
Ajyad, Jabal Qubais, Jabal Qu’aiq’an, Jabal Hiro, dan Jabal Tsur.Lembah itu bernama Bakkah (Mekah). Siti Hajar dan Ismail as
diantarkan ke Mekah karena istri tua Ibrahim Siti Sarah mencemburui Hajar yang
telah memberikan putra kepada Ibrahim. Atas perintah Allah SWT Siti Hajar dan
putranya ditinggal di bawah sebuah pohon oleh Ibrahim as yang kembali ke
Palestina menemui Sarah. Nabi Ibrahim as berdoa menengadahkan tangan, menyebut
nama Allah, menitipkan Siti Hajar dan Ismail as di bawah perlindungan dan
keselamatan Allah SWT.
Saat
air susu habis dan tak ada air, Siti Hajar menaiki bukit Shafa mencari air
untuk putranya atau kalau-kalau ada kafilah yang dapat membantu. Ketika tak ada
siapapun yang lewat, Siti Hajar berjalan menuruni bukit, lembah, dan mendaki ke
bukit Marwah. Melihat ke sekeliling namun tak ada apa-apa pula. Tujuh kali
balik dilakukan, hingga akhirnya Allah mengeluarkan air zamzam di tempat Ismail
ditinggalkan. Kelak inilah yang mendasari prosesi haji yang bernama Sai.
Saat Ismail berusia 11-12 tahun,
Ibrahim as menemui keluarganya di Mekah yang telah berubah dibandingkan situasi
saat pertama datang. Baru saja melepas rindu, Allah SWT. memerintahkan melalui
mimpi agar menyembelih Ismail as.
Meskipun
mengalami kegalauan, namun akhirnya berkat ketaatan Ibrahim as dan kesabaran
Ismail as, “yaa
abati af’al maa tu’maru“ –
wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, maka perintah itu
dapat dilaksanakan. Allah pun menggantikannya dengan sembelihan Qibas (salah
satu jenis kambing).
Soal
ujian pengorbanan dalam bentuk apapun, Allah sebenarnya tidak bermaksud
menganiaya hamba-hamba-Nya, melainkan sekadar “sarana” untuk meningkatkan mutu
keimanan dan amal salehnya semata. Dalam ibadah haji, penyembelihan hewan“hadyu” ini
dilaksanakan setelah Jumratul Aqabah atau pada hari-hari tasyrik.
Setelah Ismail as berumah tangga
dengan memperistri wanita dari suku Jurhum dan Siti Hajar telah meninggal,
Ibrahim as datang bersilaturahmi. Namun tidak bertemu dengan putranya karena
sedang berburu dalam waktu yang cukup lama. Hanya menantunya yang ada, namun
Ibrahim merahasiakan identitas dirinya. Ketika ditanyakan bagaimana keadaan
rumah tangga mereka, istri Ismail as tersebut mengeluh tentang kesulitan dan
kemiskinan hidup mereka, serta tak ada kebahagiaan sama sekali. Ketika pamit,
Ibrahim berpesan kepada menantunya jika Ismail pulang sampaikan salam dan
disarankan agar mengganti palang pintu rumahnya. Ketika Ismail as kembali, lalu
mendengar cerita istrinya tentang kedatangan tamu beserta pesan-pesannya itu,
maka Nabi Ismail as mengerti. Kemudian ia segera menceraikan istrinya yang
dinilai rewel, tak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, tidak sabar, serta
tidak menghargai usaha suaminya tersebut.
Setahun setelah kedatangan ketiga,
Ibrahim as datang lagi ke Mekah untuk menemui putranya, lagi-lagi tak bertemu.
Hanya istri Ismail as yang baru yang ditemui. Ia adalah putri sekh suku Jurhum
yang bernama As Sayyidah binti Madad bin Amr. Sebagaimana yang lalu, Ibrahim as
yang menyembunyikan identitas dirinya, menanyakan pula keadaan rumah tangga
mereka.
Ibrahim
berdoa “Ya
Allah berkahi daging dan air mereka.” (HR Bukhori). Seraya berpesan apabila suaminya pulang nanti
agar palang pintunya tak perlu diganti. Demikianlah istri saleh yang senantiasa
bersyukur dan tak pernah mengeluh atas hasil usaha suaminya.
Meskipun
kedatangan ketiga dan keempat tidak berhubungan dengan ibadah haji, namun
bangunan rumah tangga merupakan indikator kesuksesan haji. Hal ini sejalan
dengan doa agar sekembalinya dari melaksanakan ibadah haji senantiasa mendapat
perlindungan Allah dari “suu
il munqolabi fiil maali wal ahli” (kejelekan harta dan keluarga).
Tanah
yang menggunduk agak tinggi dekat sumur zamzam adalah lokasi pilihan “Ini adalah tempat yang
dipilih Allah,” kata Ibrahim as kepada Ismail as (HR
Bukhari), lalu keduanya membangun Ka’bah itu. Berbeda dengan bangunan Ka’bah
sekarang, dahulu Ka’bah lebih pendek, tak berpintu, serta memanjang meliputi
Hijr Ismail sekarang. Ada dua batu istimewa dalam proses pembangunan tersebut,
yaitu Hajar
al Aswad dan Maqam
Ibrahim. Nantinya dalam ritual haji Hajar Aswad menjadi
tempat mengawali dan mengakhiri tawaf. Setiap melewatinya mengecup atau ber-istilam. Adapun setelah tawaf, jemaah haji mesti salat 2 (dua)
rakaat di belakang Maqam
Ibrahim. Allah SWT pun berfirman, “dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi
orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang
ruku-sujud.” (QS Al
Hajj 26).
Kita
mengira bahwa Ibrahim as akan meluangkan waktu panjang di Mekah, namun nyatanya
tidak, setelah Ka’bah dibangun, Ibrahim as kembali ke Bersyeba Palestina.
Sebelumnya itu, Allah menyuruh Ibrahim as untuk mengumumkan kewajiban ibadah
haji, berziarah ke Baitullah dengan tata cara (manasik) yang diajarkan Allah
kepada Ibrahim a.s, “…..tunjukkanlah kepada kami
cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami….“ (QS
Al-Baqarah :128) dan Allah berfirman, “serulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya
mereka akan datang dengan berjalan kaki, mengendarai unta kurus, datang dari
segenap penjuru yang jauh“.
1.
Dari segi sejarah, ibadah haji seperti yang sekarang ini merupakan syariat yang
dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai langkah memperbaharui dan
menyambung ajaran Nabi Allah Ibrahim as. Ibadah haji mula diwajibkan ke atas
umat Islam pada tahun ke-6 Hijrah, mengikuti turunnya QS Al-Imran 97, artinya : “….. mengerjakan haji
adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.
Pada
tahun tersebut, Rasulullah SAW bersama-sama lebih kurang 1500 orang berangkat
ke Makkah untuk menunaikan fardhu haji tetapi tidak dapat mengerjakannya karena
dihalangi oleh kaum kafir Quraisy sehingga melahirkan satu perjanjian yang
dinamakan Perjanjian
Hudaibiah. Perjanjian itu membuka jalan bagi
perkembangan Islam di mana pada tahun berikutnya ( tahun ke-7 Hijrah ),
Rasulullah telah mengerjakan Umrah bersama-sama 2000 orang umat Islam. Pada
tahun ke-9 Hijrah, barulah ibadah Haji dapat dikerjakan di mana Rasulullah SAW
menyerahkan kepada Saidina Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memimpin 300 orang umat
Islam mengerjakan haji.
Nabi
Muhammad SAW telah menunaikan fardhu
haji sekali saja dan umroh 4 kalisemasa
hayatnya. Haji itu dinamakan Hijjatul Wada/ Hijjatul Balagh/ Hijjatul Islam
atau Hijjatuttamam Wal Kamal kerana selepas haji itu tidak berapa lama kemudian
beliau pun wafat. Beliau berangkat dari Madinatul Munawwarah pada hari Sabtu,
25 Zulqo’dah tahun 10 Hijrah bersama isteri dan sahabat-sahabatnya bersama
kurang lebih 90,000 orang Islam. Setelah menginap satu malam di Zulhulaifah,
sekarang dikenali dengan nama Bir Ali, 10 km dari Madinah, esoknya Nabi
mengenakan pakaian ihram diikuti seluruh anggota rombongan. Mereka berjalan
bersama-sama dengan pakaian putih yang sederhana, perlambang kesederhanaan dan
persamaan yang amat jelas.
Dengan
seluruh kalbu Muhammad SAW menengadahkan wajahnya kepada Tuhan sembari
mengucapkan talbiyah sebagai tanda syukur atas nikmat karunia-Nya diikuti kaum
muslimin di belakangnya: “Labbaik
Allahumma Labbaik,Labbaika laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata
laka wal mulk Laa syariika laka“, artinya : “Aku
datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak
ada sekutu bagi-Nya, Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji
dan kebesaran untuk-Mu semata-mata.Segenap kerajaan untuk-Mu. Tidak ada sekutu
bagi-Mu”.Di bawah sengatan matahari gurun, di
padang pasir yang tidak dikenal banyak umat, bergerak arus manusia dan kafilah
menuju satu titik. Mereka menyambut panggilan Nabi Ibrahim as beberapa abad
silam. Tidak ada peristiwa yang membedakan seseorang dengan lainnya. Tidak pula
perbedaan ras, bangsa atau warna kulit. Sesungguhnya, inilah pemandangan paling
indah tentang asas persamaan bahwa semua makhluk sama di depan Tuhan. Yang
membedakan, hanya kadar iman dan takwa seseorang. Mereka memenuhi seruan Nabi
untuk saling mengenal, merajut kasih sayang, keikhlasan hati dan semangat ukhuwah islamiah. Dengan penuh kesabaran pula mereka menanti tibanya Haji
Akbar, dan rasa rindu bertemu Baitullah, dengan jantung berdegup keras.
Pada
tanggal 4 Dzulhijjah rombongan masuk Makkah, selanjutnya Nabi menuju Ka’bah,
melakukan thawaf dan mencium Hajar Aswad. Sesudah tawaf, Nabi shalat dua rakaat
di Maqam Ibrahim, lalu mencium Hajar Aswad untuk kedua kalinya. Kemudian
menghadapkan wajahnya ke arah bukit Shafa, lalu lari-lari kecil antara bukit
Shafa dan bukit Marwah. Di situ dimaklumatkan barangsiapa yang tidak membawahadyu (ternak
kurban untuk disembelih) hendaknya mengakhiri ihramnya (tahallul) dan menjadikan ibadah itu sebagai umrah. Awalnya maklumat
itu dilaksanakan tanpa sepenuh hati. Nabi marah, sampai-sampai beliau kembali
ke kemahnya. “Bagaimana aku tidak marah, aku menyuruh mereka melakukan sesuatu,
tapi mereka tidak menaatiku,” jawab Nabi atas pertanyaan Aisyah. Namun akhirnya
seluruh rombongan menyesali perbuatannya. Mereka segera ber-tahallul seperti
yang dilakukan Fathimah putri Nabi, dan semua istrinya.
Hari
ke-8 Zulhijjah yaitu Hari Tarwiyah, beliau pergi ke Mina bersama rombongannya.
Selama satu hari melakukan shalat dan tinggal bersama kaumnya. Malamnya di saat
sang fajar menyembul setelah Shalat Subuh, dengan menunggang untanya
al-Qashwa’, tatkala matahari mulai tampak, beliau menuju Padang Arafah. Dalam
perjalanan yang diikuti ribuan muslim yang mengucapkan talbiyah dan bertakbir,
Nabi mendengarkan dan membiarkan mereka dalam kekhusyu’an. Pada tanggal 09
Zulhijjah yang jatuh pada hari Jumaat, Rasulullah SAW melakukan wukuf di Arafah.
Ketika berada di perutwadi di
bilangan Urana, masih di atas unta, Nabi berdiri dan berkhutbah di depan lebih
90.000 orang yang mengelilinginya. Itulah peristiwa bersejarah yang dikenal
dengan julukan “Al-Hijjatul
Wada” atau “Haji Perpisahan’. Peristiwa yang
begitu mengesankan dan indah, serta merupakan khulasha (kesimpulan) ajaran Islam dan sunnahnya yang ia wariskan
kepada masyarakat Islam. Khutbah berlangsung di bawah panas matahari yang mampu
membakar ubun-ubun, dan didengarkan dengan khidmat. Kepada Umayyah bin Rabi’ah
bin Khalaf diminta mengulang keras setiap kalimat yang beliau sampaikan, agar
didengar di tempat yang jauh. Sore harinya, rombongan Rasulullah SAW bergerak
ke arah Muzdalifah untuk bermalam di sana. Menjelang fajar, rombongan menuju ke
Mina untuk melakukan pelemparan jumroh kubro (Aqabah), menyembelih ternak
kurban. Kemudian menuju Baitullah untuk melaksanakan thawaf Ifadha’ dan kembali
lagi ke Mina untuk melanjutkan pelemparan jumroh.
Catatan : melempar jumrah berawal
dari mimpi Nabi Ibrahim as yang diperintah untuk menyembelih putranya Ismail
as, dimana pada awalnya beliau tidak percaya akan mimpi itu, namun karena
selalu datang berturut-turut, karena yakin akan kebenaran mimpi itu Ibrahim as
melaksanakan perintah itu dengan membawa Ismail as melewati tiga tempat dimana
beliau diganggu agar mengurungkan niatnya, namun atas petunjuk Allah diketahui
bahwa mereka yang mengganggu adalah syetan, sampai Ibrahim as melempar batu di
tiga tempat itu. Dalam rangkaian ibadah haji dikenal dengan Jumrah Ula, Wustha
dan Aqabah.
Rasulullah
SAW telah menyempurnakan semua rukun dan wajib haji hingga tanggal 13 Zulhijjah. Dan
pada tanggal 14 Zulhijjah, Rasulullah SAW berangkat meninggalkan Makkah
Al-Mukarramah kembali menuju Madinah Al-Munawwarah.
Di masa wukuf terdapat beberapa
peristiwa penting yang bisa dijadikan pegangan dan panduan umat Islam terhadap
suatu masalah, di antaranya adalah :
a. Rasulullah SAW minum susu di atas
unta supaya dilihat oleh orang ramai bahwa pada hari Arafah itu beliau tidak
berpuasa, namun membolehkan umat Islam berpuasa sunat.
b.
Seorang sahabat jatuh dari binatang tunganggannya lalu mati, Rasulullah SAW
menyuruh supaya mayat itu dikafankan dengan 2 kain ihram dan tidak membenarkan
kepalanya ditutup atau diwangikan jasad dan kafannya. Sabda beliau pada ketika
itu bahawa “Sahabat
itu akan dibangkitkan pada hari kiamat di dalam keadaan berihram dan
bertalbiyah“.
c.
Rasulullah SAW menjawab pertanyaan seorang ahli Najdi : “Apakah Haji itu?”. Beliau menjawab, artinya : “Haji itu berhenti
di Arafah“. Siapa tiba di Arafah sebelum naik
fajar 10 Zulhijjah maka ia telah melaksanakan haji.