Sejenak Mengenal ASMA & SIFAT (Nama-Nama dan Sifat-Sifat Alloh)
بِسْمِ للهَِّ الرَّحْمَنِ الرَّحِیمِ
Menyebutan Nama-Nama Allâh yang indah ini selalu terulang dalam Al-Qur`ân. Seiring momen dan kebutuhan yang mendesak untuk menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya, maka kami mulai dengan:Rabb (الرب )
Nama Ar-Rabb ini sendiri banyak mengalami pengulangan dalam banyak ayat.
Ar-Rabb artinya: Yang Maha Pemelihara seluruh makhluk, mengatur segala urusan dan memberikan berbagai karunia. Yang lebih khusus dari itu adalah pemeliharaan manusia-manusia pilihan, dengan cara memperbaiki hati, ruh dan akhlak mereka. Karena itulah, nama yang mulia ini banyak digunakan dalam doa mereka, karena mereka hendak memohon pemeliharaan yang istimewa ini dari-Nya.
Allâh (لله)
Dialah Sesembahan yang (berhak) disembah (al-Ma’lûh al-ma’bûd),Yang Memiliki sifat ketuhanan absolut dan sifat ‘ubudiyah (hak peribadatan) atas seluruh makhluk-Nya. Dia tersifati dengan sifat sifat ketuhanan, dimana semua sifat tersebut adalah sifat-sifat sempurna.
Al-Mâlik ( المالك )
Nama Al-Malik, Al-Mâlik atau Yang Maha Memiliki kerajaan, artinya: Dialah yang memiliki sifat-sifat keagungan, kebesaran, kekuasaan dan pengaturan yang absolut pada penciptaan, pengaturan dan pembalasan. Dia lah Pemilik seluruh alam semesta ini, baik yang tinggi (di langit) maupun yang rendah (di bumi). Semua yang menjadi hamba maupun rajanya, membutuhkan (pertolongan)-Nya.
Al-Wâhid ( الواحد ) / Al-Ahad (الأحد )
Dialah Yang Maha Tunggal dengan segala kesempurnaan dan tidak ada satupun pun yang bersekutu dengan-Nya dalam kesempurnaan ini. Karena itu wajib bagi setiap hamba untuk mentauhidkan-Nya, baik secara keyakinan (i’tiqod), perkataan dan perbuatannya, yaitu dengan mengakui kesempurnaan-Nya yang absolut dan ketuhanannya-Nya yang Maha Tunggal serta mengesakan-Nya dalam segala bentuk ibadah.
Ash-Shamad (الصمد)
Dia lah Dzat yang semua makhluk membutuhkan-Nya pada semua kebutuhan, keadaan dan kegentingan mereka, hanya Dia-lah sang pemilik kesempurnaan yang absolut baik dalam Dzat, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya.
Al-‘Alîm ( العلیم ) dan Al-Khobîr (الخبیر)
Dialah Sang Pemilik ilmu yang meliputi segala perkara zhahir dan bathin, perkara rahasia dan umum, perkara-perkara wajib, mustahil dan dan yang mungkin terjadi. Dia mengetahui perkara di alam atas (langit) dan bawah (bumi), baik yang lampau, sedang dan yang akan datang. Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari ilmu-Nya.
Al-Hakîm (الحكیم)
Dialah Sang Pemilik Hikmah yang tinggi di balik penciptaan dan perintah-Nya, yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, Alloh Ta’ala berfirman : “ (Hukum) mana yang lebih baik daripada (hukum) Allah? Bagi orang-orang yang meyakini?” (Al Maidah: 50). Karena itulah Allah Dia tidaklah menciptakan sesuatu yang sia-sia, tidak pula mensyariatkan sesuatu yang kosong tanpa tujuan. Dialah Pemilik Hukum di dunia dan di akhirat. Dia Pemilik hukum yang tiga, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hukum tersebut: Dia yang memutuskan perkara hamba-hamba-Nya dalam hukum, takdir dan balasan perbuatan mereka.
Adapun al-Hikmah artinya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan meletakkan sesuatu pada posisinya.
Ar-Rahman (الرحمن ), Ar-Rahîm ( الرحی ), Al-Birr (البر ), Al-Karîm ( الكریم ), Al-Jawwâd ( الجواد ), Ar-Ra`ûf ( الرؤوف ), dan Al-Wahhâb (الوھاب)
Semua nama-nama ini memiliki makna yang berdekatan.Keseluruhannya menunjukkan penyifatan Rabb (terhadap diri-Nya) dengan sifat rahmah (kasih sayang), birr (baik), al-Jûd (dermawan) dan al-Karam (mulia). Juga menunjukkan keluasan kasih sayang dan karunia-Nya yang menyelimuti seluruh makluk yang ada, hal ini sesuai dengan kandungan sifat rahmah (kasih sayang)-Nya. Allâh mengistimewakan karunia yang lebih dan sempura bagi orang-orang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya :
ورحمتي وسعت كل شيءٍ فسأكتبھا للذین یتقون
Nikmat dan karunia yang ada pada makhluk-Nya merupakan bukti dari rahmat, kedermawanan dan kemuliaan-Nya, serta seluruh kebaikan dunia dan akhirat merupakan bentuk akan rahmat-Nya.
As-Samî’ (السمیع)
Yang Maha Mendengar seluruh suara walau dengan bahasa yang berbeda-beda dan kebutuhan yang bermacam-macam.
Al-Bashîr (البصیر)
Yang Maha Melihat segala sesuatu sampai yang terhalus dan terkecil sekalipun. Dia dapat melihat seekor semut hitam yang merayap di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Ia juga mampu melihat isi dasar bumi pada lapisan yang ke tujuh sebagaimana Dia juga mampu melihat di atas lapisan langit yang ke
tujuh. Dia juga Maha Mendengar lagi Maha Melihat siapa saja yang pantas mendapatkan balasan sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Makna yang terakhir (dari nama yang bergandengan) ini kembali pada kebijaksanaan-Nya.
Al-Hamîd (الحمید)
Yang Maha Terpuji baik di dalam Dzat, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan Perbuatan-Nya. Dia memiliki nama yang paling indah, memiliki sifat-sifat yang paling sempurna, serta memiliki perbuatan yang paling baik lagi sempurna, karena segala perbuatan-Nya berputar diantara karunia dan keadilan-Nya.
Al-Majîd (المجید), Al-Kabîr (الكبیر), Al-‘Azhîm ( العظیم ), dan Al-Jalîl (الجلیل)
Nama-nama ini menggambarkan sifat-sifat al-Majd (kemuliaan), al- Kibriyâ` (kebesaran), al-Uzhmah (keagungan) dan al-Jalâl (keluhuran), di mana Dialah Yang Maha besar dari segala sesuatu, Yang Maha Agung, Maha Luhur dan Maha Tinggi dari segalanya. Yang pantas mendapatkan pengagungan dan pemuliaan dari lubuk hati manusia pilihan dan para wali-Nya, yang mana hati-hati mereka terisi penuh dengan pengagungan, pemuliaan dan ketundukan serta merasa rendah pada kebesaran-Nya.
Al-‘Afwu (العفو), Al-Ghafûr ( الغفور ) dan Al-Ghaffâr (الغفار)
Yang tidak akan sirna dan akan senantiasa dikenal Sifat Pemaafnya, lagi Yang Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya. Setiap orang pasti membutuhkan maaf dan ampunan-Nya, sebagaimana ia juga memerlukan rahmat dan karunia-Nya. Dia telah menjanjikan ampunan dan maaf bagi siapa saja yang telah
menjalankan sebab-sebabnya. Allâh berfirman: “Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar” (QS Thâha : 82)
At-Tawwâb (التواب)
Yang senantiasa menerima taubat hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat dan mengampuni seluruh dosa hamba-hamba-Nya yang mau kembali. Siapa saja yang bertaubat kepada Allâh dengan taubat yang sebenarnya (taubatan nashûha) niscaya Allâh pasti menerima taubatnya, karena Dialah Sang Penerima Taubat atas hamba-Nya (dengan sebab) : Pertama, dengan memberikan taufik kepada mereka untuk bertaubat dan menerima dengan ketulusan hati, dan (kedua), Dialah penerima taubat mereka, tentu setelah
mereka bertaubat, sebagai bentuk penerimaan-nya dan sebagai tanda maaf atas dosa-dosa mereka.
Al-Quddûs ( القدوس ), dan As-Salâm (السلام)
Yang diagungkan dan disucikan dari seluruh sifat kekurangan dan dari penyetaraan dengan makhluk-Nya. Sebab Dia tersucikan dari segala kekurangan, dan tersucikan pula dari penyetaraan seseorang dengan salah satu sifat kesempurnaan-Nya, (Allâh berfirman) “tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya”, “dan tidak ada yang setara dengan-Nya”, “adakah satu keserupaan dengan-Nya”, “maka janganlah kalian membuat tandingantandingan untuk Allâh”.
Kata Al-Quddûs demikian pula As-Salâm, keduanya menafikan kekurangan sifat(Allâh) dari segala sisi, sebagaimana kedua nama ini juga mengandung kesempurnaan mutlak pada sifat Allâh dari segala sisi. Karena jika sifat kekurangan itu dinafikan, maka yang tetap semuanya hanyalah kesempurnaan.
Al-‘Alî ( العلي ) dan Al-A’lâ ( (الأعلى)
Dialah Yang memiliki ketinggian mutlak dari segala sisi, baik ketinggian Dzat, kehormatan, sifat-sifat dan kekuasaan-Nya. Dialah yang bersemayam di atas Arsy dan yang memiliki kerajaan. Terkumpul pada-Nya seluruh sifat-sifat keagungan, kebesaran, kemuliaan, keindahan dan pada-Nya puncak kesempurnaan.
Al-‘Azîz (العزیز)
Yang Memiliki Seluruh Kemulian: baik kemulian kekuatan, kemenangan dan mencegah, sehingga setiap orang terhalang memiliki kemulian ini, sementara Dia menguasai seluruh makhluk, pada-Nya setiap makhluk merendah, serta tunduk patuh pada keagungan-Nya.
Al-Qowî ( القوي ) dan Al-Matîn (المتین)
Nama ini semakna dengan sifat Al-Azîz (Maha Mulia).
Al-Jabbâr (الجبار)
Nama ini semakna dengan nama Al-Alî Al-A'lâ (Yang Maha Tinggi), Al-Qahhâr (Yang Maha Kuasa) dan Ar-Ra`ûf (Yang Maha Pengasih). (Makna al-Jabbâr) Dialah yang membenahi hati yang telah keruh, Ia juga mencukupi kebutuhan hamba yang lemah tak berdaya, dan Dialah Yang menghibur mereka yang bersandar pada-Nya.
Al-Mutakabbir (المتكبر)
Yang Maha Besar yang bebas dari keburukan, kekurangan dan kelemahan karena keagungan dan kebesaran-Nya.
Al-Khâliq (الخالق ) , Al-Bâri` ( البارئ ), dan Al-Mushawwir (المصور)
Dialah Yang menciptakan seluruh makhluk yang ada. Ia menciptakannya menurut kebijaksanaan-Nya. Ia membentuk rupanya berdasarkan sifat terpuji dan kebijaksanaan-Nya. Dia senantiasa dan akan tetap berada dalam sifat yang agung ini.
Al-Mu`min (المؤمن)
Dialah Yang menyanjung diri-Nya dengan sifat-sifat sempurna, dengan sifat agung dan indah yang paripurna. Dia mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab suci-Nya dengan penjelasan bukti-bukti dan keterangan yang nyata, dan membenarkan para Rasul yang datang dengan setiap ayat dan keterangan yang nyata menunjukkan akan kebenaran risalah yang mereka bawa.
Al-Muhaimin (المھیمن)
Yang dapat memantau setiap perkara yang tersembunyi, bahkan mengetahui yang terbetik di dalam dada hamba-Nya, karena Dialah Pemilik ilmu atas segala sesuatu.
Al-Qodîr (القدیر)
Yaitu kekuasaan yang sempurna. Dengan sebab kekuasaan-Nya, Dia Mengadakan segala apa yang ada. Dengan kekuasaan-Nya pula Dia mengatur, membenahi, menghukumi, menghidupkan, mematikan dan membangkitkan untuk pembalasan amal, dan Ia balas bagi yang berbuat baik dengan pahala dan mengganjar seorang pendosa karena dosanya. Apabila Ia menghendaki sesuatu maka Ia mengatakan : "jadilah” maka jadilah. Dan dengan kekuasaan-Nya, Dia mampu membolak-balik hati hamba-hamba-Nya, menurut
kehendak dan keinginan-Nya.
Al-Lathîf (اللطیف)
Dialah Yang memiliki ilmu yang menyelimuti perkara-perkara rahasia lagi tersembunyi. Yang mengetahui rahasia batin dan perkara-perkara halus. Yang Maha Lembut kepada hamba-hamba yang beriman, sebagai penyalur kebaikan mereka, yang muncul dari luapan kelembutan dan santunan-Nya melalui jalan yang beragam tanpa dirasakan oleh mereka. Nama ini semakna dengan Al-Khabîr
(Yang Maha Mengetahui) dan Ar-Ra`ûf (Yang Maha Pengasih).
Al-Hasîb (الحسیب)
Dialah Yang Maha Mengetahui akan hamba-hamba-Nya, Yang menanggung beban orang-orang yang bertawakkal, Yang membalas amal baik buruk hamba-hamba-Nya, seiring dengan kebijaksanaan
dan ilmu-Nya terhadap segala amal yang kecil lagi halus.
Ar-Raqîb (الرقیب)
Yang dapat memantau perkara yang disembunyikan oleh hati, Yang menetapkan balasan perbuatan setiap yang diusahakan oleh setiap jiwa, dan Yang memelihara segala makhluk dengan memperlakukannya dengan sebaik-baik aturan dan keputusan.
Al-Hafîzh (الحفیظ)
Yang Memelihara ciptaan-Nya dan Ilmu-Nya meliputi setiap yang diciptakan-Nya. Dialah yang Memelihara wali-wali-Nya dari dosa dan kebinasaan, dan berlaku lembut dengan mereka di setiap gerakan dan aktivitas mereka, dan Dia menghitung dan membalas mereka berdasar amalan yang telah diperbuat oleh mereka.
Al-Muhîth (المحیط)
Yang Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu, Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Berkemampuan atas segalanya.
Al-Qohhâr ( القھار )
Yang Maha Perkasa terhadap segala sesuatu, dimana pada-Nya seluruh makhluk tunduk lagi merendahkan dan menghinakan diri dihadapan-Nya lantaran kemuliaan, kekuatan dan kesempurnaan ketentuan-Nya.
Al-Muqît (المقیت)
Yang Memberikan apa yang dibutuhkan oleh setiap makhluk, Yang Menyalurkan rizki mereka dan menentukannya sesuai dengan kehendak-Nya menurut kebijaksanaan dan kemuliaan-Nya.
Al-Wakîl (الوكیل )
Yang Bertanggung Jawab mengatur urusan hamba-Nya sesuai ilmu, kekuasan-Nya yang sempurna dan Kebijaksanaan-Nya yang komprehesif. Dialah Yang memelihara para wali-Nya dan memudahkan urusan mereka dan menjauhkan mereka dari kesulitan, serta Dia cukupi kebutuhan mereka. Jadi, barang siapa yang menjadikan-Nya sebagai pemeliharanya, maka Dia sudah cukup sebagai penolongnya (sebagaimana Firman-Nya) "Allâh adalah Penolong orang-orang yang beriman, Ia telah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya".
Dzûl Jalâli wal Ikrâm (ذو الجلال والإكرام)
Yaitu, Yang memiliki kebesaran, keagungan dan Yang memiliki rahmat, kedermawanan dan kebaikan yang menyelimuti perkara umum dan khusus, Dia Yang memuliakan para wali dan segenap orang pilihan-Nya, yang mereka juga memuliakan, mengangungkan dan mencintai-Nya.
Al-Wadûd (الودود)
Yang mencintai Para Nabi dan Rasul-Nya, serta para pengikut mereka, dan mereka pun mencintai-Nya. Dia lebih dicintai oleh mereka dibandingkan segalanya. Hati-hati mereka telah terisi oleh rasa cinta kepada-Nya, dan lisan-lisan mereka terus bergerak menyanjung-Nya. Relung hati mereka senantiasa dipenuhi oleh rasa
cinta, ikhlas dan penuh harapan kepada-Nya.
Al-Fattâh (الفتّاح)
Yang memutuskan perkara hamba-hamba-Nya dengan hukumhukum syariat, keputusan takdir dan ketetapan balasan perbuatan mereka. Yang dengan kelembutan-Nya membuka penglihatan orang-orang yang jujur, membuka hati-hati mereka untuk mengenal, mencintai dan kembali pada-Ny. Dia juga yang membuka
pintu-pintu rahmat dan rizki yang beragam bagi hamba-hamba-Nya, serta membuka jalan amal mereka untuk berusaha, yang dengannya mereka menuai hasil dari usaha tersebut baik di dunia maupun di akhirat “Apa saja yang Allâh anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allâh, maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu”.
Ar-Razzâq (الرزاق)
Yang Maha Pemberi rizki untuk segenap Hamba-Nya, sehingga tidak satupun makhluk yang melata di atas permukaan bumi ini, melainkan telah Allâh penuhi rizkinya. Rizki-Nya kepada hambahamba-Nya ini terbagi menjadi dua bagian: (Pertama) rizki yang umum, mencakup untuk semua orang baik yang shâlih maupun pendosa, generasi yang terdahulu hingga yang terakhir, dan rizki ini adalah rizki yang bersifat fisik. (Kedua) rizki yang khusus, yaitu berupa hati, dimana pemenuhannya disuguhkan dengan ilmu dan iman, serta rizki yang halal untuk membatu tegaknya agama Allâh. Rizki semacam ini hanya diistimewakan bagi orang-orang yang beriman, berdasarkan derajat keimanan mereka, sesuai dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya.
Al-Hakam ( الحكم ), dan Al-‘Adl (العدل)
Yang memutuskan perkara diantara hamba-hamba-Nya di dunia dan di akhirat dengan keadilan-Nya; sedikitpun Dia tidak mengurangi berat timbangan amal seseorang walau seberat biji dzarrah, dan dia tidak akan membebani seseorang dengan dosa orang lain. Dia tidak akan membalas seorang hamba melebihi
dosanya dan Dia akan menunaikan hak-hak kepada yang berhak, sehingga Dia tidak membiarkan setiap pemilik hak tersebut melainkan akan diberinya. Dialah Yang Maha Adil dalam aturan dan ketetapan-Nya, “Sesungguhnya Tuhanku tetap berada di atas Jalan (keputusan-Nya) yang lurus”.
Jâmi’un Nâs (جامع الناس)
Yang Maha Mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya, dan Dia pula yang mengumpulkan seluruh amal perbuatan dan rizki mereka, tidak ada yang tertinggal sedikitpun amal yang kecil maupun besar melainkan akan dihitung oleh-Nya. Dia juga yang akan mengumpulkan perkara yang telah terpisah dan dianggap mustahil;yaitu mengumpulkan manusia yang telah meninggal dari generasi pertama maupun terakhir (kelak di padang mahsyar, pent.), hal ini karena kesempurnaan kekuasaan dan
keluasan ilmu-Nya.
Al-Hayyu ( الحي ), dan Al-Qoyyûm (القیوم)
Yang memiliki kehidupan yang sempurna dan terus berdiri dengan sendiri. Yang terus menerus berdiri mengurus penduduk langit dan bumi, mengurus rizki mereka dan membenahi seluruh keadaan mereka. Maka nama Al-Hayyu adalah sebuah nama yang mengandung makna seluruh sifat dzat, dan nama Al-Qayyûm adalah sebuah nama yang mengandung makna seluruh sifat perbuatan.
An-Nûr (النور)
Pemberi cahaya langit dan bumi, Yang memberikan cahaya ke dalam hati-hati orang yang berpengetahuan, dengan cara mengenal dan mengimani-Nya. Menyinari akal mereka dengan cahaya petunjuk. Dan Dialah Yang telah menyinari langit dan bumi dengan berbagai cahaya yang telah ditetapkan oleh-Nya. Hijab
(penghalang)-Nya adalah cahaya, jika seandainya Dia membukanya,maka pancaran sinar wajah-Nya akan menghanguskan seluruh makhluk yang di pandang oleh-Nya.
Badî’us Samâwât wal Ardhi (بدیع السماوات والأرض)
Yaitu Dialah Sang Pencipta dan Inovator langit dan bumi, yang pada penciptaannya telah mencapai puncak keindahan penciptaan, keteraturan yang menakjubkan dan nyata.
Al-Qâbidh ( القابض ),dan Al-Bâsith (الباسط)
Al-Qâbidh adalah Yang Maha Mencabut nyawa dan menarik rizki sedangkan Al-Bâsith adalah Yang Maha Melapangkan rizki dan melanggengkan hati. Yang demikian itu berlaku karena kebijaksanaan dan Rahmat-Nya.
Al-Mu’thî ( المعطي ),dan Al-Mâni’ (المانع)
Tidak ada satupun yang dapat menahan apa yang Ia berikan, dan tidak ada satupun yang dapat memberi apa yang Ia tahan. Maka semua kebaikan dan manfaat haruslah dipinta dan diharapkan dari-Nya, karena Dialah Yang memberi pemberian kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Dia mencegahnya menurut
kehendak-Nya, berdasarkan kebijakan dan rahmat-Nya.
Asy-Syahîd (الشھید)
Yaitu Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu, Mendengarkan semua getaran suara baik yang tersembunyi maupun yang tampak, Melihat semua yang wujud baik yang halus maupun yang tampak, yang kecil maupun yang besar. Dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang dengannya Dia menyaksikan dan mengetahui
perbuatan hamba-hamba-Nya.
Al-Mubdî` ( المبدئ ),dan Al-Mu’îd (المعید)
Allâh Ta’âlâ berfirman: “Dan Dialah Yang Mengawali penciptaannya, kemudian Membangkitkan mereka”. Dialah yang mengawali penciptaan mereka, untuk menguji diantara mereka siapa yang paling baik amal perbuatannya, lalu Dia membangkitkan mereka untuk membalas amal mereka menurut baik dan buruknya.
Demikian juga Dialah yang menciptakan seluruh makhluk setahap demi setahap, kemudian Dia membangkitkannya dalam satu waktu.
Al-Fa’âlu Limâ Yurîd (الفعال لما یرید)
Yang Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya, dan hal ini terwujud karena kesempurnaan kekuatan-Nya dan karena kemurnian kehendak dan kekuasaan-Nya. Bahwa segala perkara yang dikehendaki-Nya pasti akan dilakukannya, tanpa ada satupun pun yang sanggup melarang atau menyanggah-Nya, dan tiada satupun yang mampu menjadi pembantu dan penolong-Nya, terhadap segala hal yang akan terjadi. Bahkan jika Dia menghendaki sesuatu Ia mengatakan jadilah maka jadilah. Sebagaimana Dia juga Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya, maka kehendak-Nya menyertai kebijakan dan kemuliaan-Nya, karena Dia tersifati dengan kekuasaan yang sempurna dan memiliki kebebasan berkehendak. Serta Dia juga tersifati dengan sifat kebijaksanaan yang mencakup seluruh apa yang telah, sedang dan akan dilakukan.
Al-Ghonî ( الغني ), dan Al-Mughnî (المغني)
Dia Yang Maha Kaya dalam Dzat-Nya, Yang memiliki kekayaan yang sempurna lagi absolut, dari segala sisi dan tinjauan, karena kesempurnaan diri-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada celah kekurangan sedikitpun dari segala sisi, tetap saja selamanya Ia Maha Kaya. Karena kekayaan-Nya merupakan
konsekuensi dari Dzat-Nya, sebagaimana Dia akan tetap sebagai Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Pemberi rizki dan Maha Baik. Tidak butuh kepada seorang pun untuk segala hal. Dialah Yang Maha Kaya, di tangan-Nya lah segala perbendaharaan langit dan bumi, serta perbendaharaan dunia dan akhirat. Sedangkan al-Mughnî adalah Dialah Yang Maha Mencukupi makhluk-Nya secara umum, dan mencukupi manusia yang khusus dengan curahan kemurahan-Nya ke dalam hati mereka dengan pengetahuan robbanî dan hakikat keimanan.
Al-Halîm (الحلیم)
Dialah yang melimpahkan semua nikmat baik yang lahir maupun yang batin kepada makhluk-Nya, walau mereka banyak bermaksiat dan bersalah. Namun Dia tetap bersikap santun kepada mereka sesuai dengan kadar kemaksiatan mereka, kiranya mereka mau untuk bertaubat kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.
Asy-Syâkir ( الشاكر ), dan Asy-Syakûr (الشكور)
Dia berterima kasih dari amal perbuatan (hamba-Nya) yang sedikit dan mengampuni kesalahan dan dosa yang berlimpah. Dia mengganjar dengan pahala yang berlipat ganda terhadap amal perbuatan orang-orang yang ikhlas lagi tulus tanpa mengharapkan imbalan, berterima kasih kepada orang-orang yang mensyukuri
nikmat dan menyebut orang yang menyebut-Nya. Barang siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan satu amal Shâlih, maka Allâh mendekatinya lebih banyak lagi (dengan ganjara pahala dan karunia, ed.).
Al-Qorîb ( القریب ),dan Al-Mujîb (المجیب)
Dialah Yang Maha dekat kepada setiap hamba, dan kedekatan-Nya pada hamba-Nya terbagi menjadi dua macam: (Pertama) kedekatan yang bersifat umum untuk semua makhluk, dengan ilmu, pengetahuan, pengawasan, persaksian dan pemantauan-Nya. (Kedua) kedekatan yang bersifat khusus untuk hamba, pemohon dan para pecinta-Nya, dan kedekatan model yang kedua ini tidak diketahui hakikatnya, ia hanya bisa dideteksi dari pengaruh baiknya, seperti: kelembutan-Nya pada hamba-Nya, serta inayat dan bimbingan-Nya kepadanya. Dan di antara pengaruhnya adalah dikabulkannya do'a orang-orang yang meminta kepada-Nya dan kembalinya hamba-hamba-Nya. Dia mengabulkan doa orang-orang yang berdo’a pada-Nya secara umum, bagaimanapun keadaan, kondisi dan dimanapun mereka berada. Sebagaimana Dia telah menjanjikan janji yang mutlak ini kepada mereka, yaitu bahwa Dia akan mengabulkan doa orangorang
khusus yang memenuhi dan tunduk terhadap syariat-Nya, Dia juga mengabulkan doa orang yang sedang mengalami kegentingan/keadaan darurat, mengabulkan doa orang yang telah putus harapan tapi masih memiliki hubungan dengan-Nya, karena dorongan rasa harap yang besar pada ampunan-Nya, harapan dan
takut pada-Nya.
Al-Kâfî (الكافي)
Yang Maha Mencukupi semua yang diperlukan dan dibutuhkan. Dialah Yang Maha Memenuhi secara khusus berbagai kebutuhan baik dunia dan akhirat orang-orang yang beriman, bertawakkal dan bersandar ada-Nya.
Al-Awwal ( ,(الأول ) Al-Âkhir ( ,(الآخر) Azh-Zhâhir ( الظاھر ),dan Al-Bâthin ( (الباطن)
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya dengan tafsiran yang lengkap dan jelas. Beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menyeru Rabb-nya :
أنت الأول فلیس قبلك شيءٌ وأنت الآخر فلیس بعدك شيءٌ ،
وأنت الظاھر فلیس فوقك شيءٌ ، وأنت الباطن فلیس دونك شيءٌ
“Engkau lah Yang Maha Pertama, sehingga tidak ada sesuatu apapun yang mendahului-Mu, dan Engkaulah Yang Terakhir, tidak ada sesuatu apapun yang mengakhiri-Mu. Engkau lah Yang Tampak, sehingga tidak ada sesuatu pun yang berada di atas-Mu, dan Engkaulah yang Maha Batin, sehingga tidak ada sesuatu pun yangberada di bawah-Mu.”
Al-Wâsi’ (الواسع)
Yang Maha Luas sifat-sifat dan karakteristik serta hubungan kedua-Nya tersebut, di mana tidak seorang pun yang dapat menghitung sanjungan yang dipersembahkan kepada-Nya. Bahkan sebagaimana Ia menyanjung diri-Nya sendkiri, Yang Maha Luas keagungan, kekuasaan dan kerajaan-Nya, dan Yang Maha Luas karunia dan kebaikan, serta keagungan dan kedermawanan-Nya.
Al-Hadî ( الھادي ),dan Ar-Rasyîd ( (الرشید)
Yaitu: Dialah Yang Maha Memberi petunjuk dan Membimbing semua hamba-Nya menuju kebaikan dan menghindari keburukan. Dia mengajari mereka dari apa yang tidak diketahui, Memberi mereka hidayah taufik dan bimbingan, Mengilhamkan ketakwaan kepada mereka, dan Menjadikan hati-hati mereka patuh dan tunduk pada perintah-Nya. Adapun Nama Ar-Rasyîd mengandung makna Al-Hakîm (Yang Maha
Bijaksana), yaitu Dia Maha Bijaksana di dalam firman dan perbuatan-Nya. Seluruh syariat-Nya seluruhnya adalah kebaikan, bimbingan dan kebijaksanaan dan pada ciptaan-Nya terkandung bukti atas bimbingan Allâh.
Al-Haq (الحقّ )
Dialah Yang Maha Benar di dalam dzat dan sifat-sifat-Nya. Ia merupakan konsekuensi wajib akan eksistensi-Nya. Pemilik sifat sifat dan ciri-ciri yang sempurna. Eksistensi-Nya merupakan kelaziman dari Dzat-Nya, karena tidak ada suatu pun yang eksis melainkan memiliki Dzat. Dia tetap dan senantiasa tersifati dengan keagungan, kemuliaan, keindahan dan kesempurnaan. Senantiasa dan tetap dikenal dengan keluhuran-Nya. Sebab perkataan, perbuatan, pertemuan, Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan
agama-Nya adalah benar. Peribadatan hanya pada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya adalah benar, dan semua yang disandarkan kepada-Nya adalah benar. (Sebagaimana firman-Nya):
ذلك بأن لله ھو الحق وأن ما یدعون من دونھ ھو الباطل وأن لله
ھو العليّ الكبیر
“Yang demikian itu bahwasanya Allâh adalah Tuhan Yang benar untuk disembah, dan apa yang kalian seru selain-Nya dia adalah batil, dan Allâh Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”
قل الحق من ربكم فمن شاء فلیؤمن ومن شاء فلیكفر
“Katakanlah: kebenaran datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang menghendakinya, hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang menghendaki (selainnya) pastilah ia kafir"
" فماذا بعد الحق إلا الضلال
“Dan tidaklah setelah kebenaran melainkan kesesatan”
وقل جاء الحق وزھق الباطل إن الباطل كان زھوقًا
“Katakanlah, telah datang kebenaran dan kebatilan pun lenyap,sesungguhnya kebatilan pasti akan sirna.”Segala puji hanya milik Allâh yang dengan karunia-Nya semua amal Shâlih bisa terselesaikan. Shalawat dan Salam sejahtera semoga senantiasa tercurahkan kepada Muhammad, keluarga, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang meneladani mereka hingga hari kiamat. Diucapkan dan ditulis oleh seorang hamba yang fakir yang membutuhkan (rahmat) Rabb-nya : ‘Abdurrahmân bin Nâshir bin Abdillah bin Nâshir As-Sa'di. Semoga Allâh mengampuni beliau, kedua orang tua beliau, guru-guru dan kesayangan beliau serta
seluruh kaum muslimin. Âmîn.
Judul Asli : Syarh Asmâ’il Husnâ Lis Sa’di
Penyusun : Syaikh Shâlih bin ‘Abdil ‘Azîz
As-Sindî hafizhahullahu
Penerjemah : Bisri Tujang, Lc.
Editor : Tim Portal Islam
Publikasi : www.portal-islam.net
Cetakan : Pertama, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar