Senin, 13 Mei 2013
MEMBANGUN NIAT ANAK
“Bi.. apa hadiahnya jika ada nilai sepuluh pada hasil ujian sekolahku?” Inilah pertanyaan yang meluncur dari mulut anak saat kami mendiskusikan persiapan menghadapi ujian akhir sekolahnya. Pertanyaan tersebut sempat membuat kami tergagap dan berfikir keras untuk menjawabnya.
Jika kami menjawabnya dengan menjanjikan hadiah uang atau benda pada setiap materi yang dapat nilai sepuluh, hati kami berkata memang sewajarnya ia mendapatkannya sebagai bentuk terima kasih kasih kami atas segala usaha dan kerja kerasnya. Tetapi fikiran kami menolak untuk melakukannya karena khawatir akan membangun niat-niat yang serba materi pada setiap perilaku baik yang dilakukan oleh anak.
Sebaliknya jika kami menjawab dengan menolak permintaannya, hati kami berkata alangkah bakhilnya kami sebagai orang tua kepada anak, toh hadiah tersebut memang pantas bagi anak untuk mendapatkannya. Tetapi fikiran kami lebih menerima keputusan untuk menolaknya karena mendapatkan nilai baik memang sudah menjadi kewajiban anak.
Banyak orang tua yang dihadapkan pada tawar menawar hadiah dengan anak pada banyak perbuatan baik yang harus dilakukan oleh anak. Terlihat anak itu sangat termotivasi untuk melakukan kebaikan pada perilaku baik yang dijanjikan hadiah oleh orang tuanya, dan sebaliknya ia tidak mempunyai motivasi jika tidak ada janji hadiah pada perilaku baik yang lain.
Permasalahan sesungguhnya pada motivasi dan niat anak untuk melakukan kebaikan adalah apa yang biasa dinikmati ketika kebaikan tersebut telah dilakukan oleh anak. Bagi anak yang selalu diberi hadiah materi apalagi dijanjikan sebelum ia melaksanakannya, maka tentunya ia akan termotivasi hanya dengan materi dan ia selalu menikmati adanya hadiah materi tersebut.
Beberapa anak telah melewati fase hadiah materi, ia termotivasi untuk melakukan kebaikan karena perhatian orang tua, atau kesempatan yang lebih terbuka saat kebaikan tersebut telah dilakukan. Ia termotivasi untuk melakukan suatu kebaikan tidak lagi karena janji-janji yang bersifat materi, tetapi ia merasakan bahwa perhatian, pujian serta kepercayaan orang tua bertambah saat ia melakukan kebaikan.
Tentunya kita sebagai orang tua tidak puas melihat anak-anak kita melakukan kebaikan hanya karena dorongan ekstrintik di atas,yaitu anak melakukan kebaikan karena dorongan dari luar dirinya. Kita perlu meningkatkan dari fase ekstrintik di atas menuju fase instrintik yaitu ia terdorong untuk melakukan kebaikan karena ia menikmati saat melakukan kebaikan tersebut, atau menikmati melakukan kebaikan karena manfaatnya bagi orang lain, atau karena ia ingin mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Beberapa teknik dapat dilakukan oleh orangtua untuk membangun niat-niat instrinsik pada diri anak dalam melakukan kebaikan, di antaranya adalah :
1. Mengurangi hadiah-hadiah yang bersifat materi apalagi dengan selalu memberi janji-janji hadiah materi sebelum anak melakukan kebaikan.
2. Memberi perhatian dan pujian yang tulus saat anak melakukan kebaikan
3. Membimbing anak untuk merasakan betapa nikmatnya suatu kebaikan dilakukan, seperti membimbing anak memberi shadaqah kepada fakir miskin dan merasakan betapa perasaan kita tenang saat memberikannya serta betapa gembiranya wajah orang yang baru kita beri
4. Mengarahkan seluruh kebaikan anak hanya untuk Allah, seperti saat anak membantu orang tuanya melakukan tugas-tugas rumah tangga akan menjadikan kedua orang tuanya ridho terhadap dirinya, dan pada akhirnya itu menjadi jalan bagi ridho Allah kepada dirinya
Ust. Miftahul Jinan
Direktur Griya Parenting
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar